Senin, 13 Desember 2010

Lestarikan Sastra Tulis Betawi Lewat Tangan Cerpenis Handal

“ Kita bangga kalau orang dari luar suku betawi menggunakan dialek betawi, namun terkadang kurang pas dalam penempatan bahasa betawi itu sendiri. Misalnya penggunaan kata elu, gue kepada orang tue-tue atawe orang nyang lebih tue, itu kurang pas,”

Kebudayaan Betawi sebagai tuan rumah di negerinya sendiri tak usang dimakan zaman, tetap lestari dengan orang-orang yang mempunyai kepedulian untuk mengembangkan, melestarikan dan memberdayakan seni budaya Betawi melalui Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Salah satu upaya yang ditawarkan untuk mempertegas kondusitas adalah menggelar kegiatan Lomba penulisan cerpen Betawi bertema ”Memartabatkan Kesusastraan Betawi”.

Ketua Umum LKB, H. Tatang Hidayat, SH, mengemukakan sudah menjadi tugas semua komponen masyarakat Jakarta untuk memberi ruang bagi pengembangan, pelestarian, dan pemberdayaan seni budaya Betawi. Karena budaya Betawi sejak dahulu telah mengakomodir semua unsur budaya yang datang ke Jakarta. “Budaya Betawi menjadi bangunan multikultur yang sepatutnya menginspirasi budaya masyarakat nusantara,” ungkap H. Tatang seraya  menegaskan segmentasi peserta lomba cerpen betawi tidak hanya terbatas kepada orang betawi saja, tetapi siapapun orang yang peduli terhadap budaya betawi.

Nuansanya adalah pelestarian budaya tutur dialek betawi yang kini sudah banyak ditinggalkan orang . Diharapkan masyarakat lainpun bisa ikut dan bisa menggunakan bahasa betawi dengan baik dan benar.

Diadakannya lomba cerpen ini diharapkan akan lahir penulis-penulis sekaliber Firman Muntaco, Mahbub Jubaidi, Alwi Syihab, Abdul Chair yang merupakan penulis generasi awal, sementara penulis-penulis lapis-lapis lainnya belum ada, apakah itu cerpenis, novelis, dll, Hal ini merupakan salah satu sumber inspirasi bagi penulis-penulis dengan mengedepankan konsep dialek betawi dan ini bisa memperkaya khasanah masyarakat tentang budaya tutur dialeg betawi. “ Kita bangga kalau orang dari luar suku betawi menggunakan dialek betawi, namun terkadang kurang pas dalam penempatan bahasa betawi itu sendiri. Contohnya penggunaan kata elu, gue kepada orang tue-tue atawe orang nyang lebih tue, itu kan kurang pas,” ungkap Tatang.

Ditambahkan Tatang untuk takaran segmen lomba, baru menyangkut pada segmentasi dialek budaya tutur dan menyangkut culture orang betawi, menyangkut nilai orang betawi yang bermasyarakat, berkawan dan berkumpul. Jadi lebih pada pelestarian budaya tutur kata. Targetnya agar masyarakat umum bisa paham dan mengerti bicara dengan bahasa betawi yang baik dan benar, tidak keluar dari aturan-aturan yang sudah baku. Dengan demikian mereka dapat menggunakan bahasa betawi dengan benar dan tepat sasarannya, tepat penempatannya apalagi sekarang penulis betawi masih itu-itu aja, Seperti Alwi Syihab, Thabrani, Mahbub junaidi, Firman Muntaco, tentunya itu harus ada yang menggantikan karena banyak yang sudah meninggal.

Saat ini lomba diadakan baru pada tingkat umum klasifikasi, tidak pada klasifikasi pendidikan,”Kalau untuk pelajar mungkin lebih banyak pada ekstra kurikuler, seperti kesenian, Pencak Silat, kita akan lebih bangga bila penulisan cerpen betawi dimenangkan oleh orang diluar betawi artinya dengan demikian sosialisasi itu berjalan. Contohnye abang – none betawi, abangnye dari batak, nonenye dari padang ,”ungkap Tatang.

Sementara itu Ketua Pelaksana Lomba Penulisan Cerpen Betawi, Drs. Yahya Andi Saputra, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional, dikemas sedemikian rupa dan disuguhkan kepada publik Jakarta pada khususnya dan publik Indonesia pada umumnya. Publik Jakarta terdiri atas berbagai etnik dan bangsa, sehingga lomba penulisan cerpen Betawi ini diharapkan menjadi perekat menuju kesatuan dan persatuan yang utuh, di samping juga mencari bibit cerpenis Betawi yang handal dan mumpuni. lomba penulisan cerpen betawi ini, imbuh Yahya,  diadakan untuk seluruh segmen, seluruh rakyat indonesia, tujuannya untuk mencetak penulis-penulis cerpen baru seperti MS Ardan, Mahbub Junaidi, Firman Muntaco, Abdul Chair yang merupakan generasi awal. “Sekarang ini kita merasa minat anak muda untuk menekuni dunia cerpen betawi sedikit menurun, maka dengan adanya lomba cerpen ini kita bercita-cita munculnya kembali cerpenis sekaliber Firman muntao, SM Ardan, Abdul Chair itu cita-cita kita yang paling jelas, siape pun boleh ikut nggak terbatas kepada orang betawi aje”kata Yahya.

Harapannya, seluruh peserta yang mengikuti lomba terus berkarya tidak terbatas ketika ada lomba cerpen saja, tetapi setelah itu ditinggalkan karya menulisnya. Meskipun cerpen itu fiksi sifatnya namun harus diperhatikan akurasi dan ketepatan yang berkaitan dengan kebetawian harus akurat. Kalau tidak tepat maka akan ada komplain dari masyarakat. Akurasi tehnik dasar menulis harus dikuasai mengikuti kutipan-kutipan dialog yang sudah baku.

Untuk lomba cerpen sekarang ini pesertanya masih terbatas pada orang yang telah berusia 17 tahun keatas atau dewasa karena dalam usia tersebut seseorang sudah dianggap matang baik dari segi usia, pengalaman hidup, pergaulan dimasyarakat sehari-hari, sedangkan lomba penulisan cerpen betawi untuk tingkat pelajar belum pernah diadakan. 

Tim Juri terdiri atas : Drs. H. Abdul Chaer ( UNJ ),  DR. Ibnu Wahyudi ( UI ), Drs. Zen Hae (Dewan Kesenian Jakarta). Dalam penilaiannya, Ibnu Wahyudi, mengemukakan hal yang perlu diperhatikan adalah masalah pengulangan yang membosankan atau stereotip. Selain bahwa stereotip seringkali tidak memberikan gambaran yang cermat dan sangat generalis, ia cenderung membicarakan hal-hal yang sangat permukaan, yang lazimnya sudah diketahui pembaca. Oleh karena itu, untuk apa menulis hal-hal yang sudah dipahami pembaca dengan baik? Maka, jika kita ingin karya kita menjadi lebih berharga, menjadi sesuatu yang cukup punya sisi istimewa, jauhilah kecenderungan yang stereotip ini karena kita memang sedang tidak membicarakan hal-hal umum. Karya kita harus berupa sesuatu yang unik, berbeda, yang mampu memberikan dimensi tak terduga.

Pengumuman pemenang diadakan di Auditorium Gedung Nyi Ageng Serang Kuningan Jakarta Selatan. Acara ditutup oleh Sekretaris Umum Lembaga Kebudayaan Betawi Drs. H. Ahmad Syaropi, Msi dan didampingi oleh Koordinator Pengembangan Budaya Drs. Firmansyah Abdul Wahid pada hari minggu tanggal 30 Mei 2010  pukul 14.00 diawali penjelasan tentang kaidah penulisan cerpen Betawi.

Ahmad Syaropi, Msi,  mengungkapkan tujuan diadakannya lomba cerpen ini untuk melestarikan sastra tulis betawi. ”cerpen itu adalah salah satu bagian dari sastra dimana sastra itu sendiri dalam bentuk lisan dan tulisan. Sastra itu sendiri ada yang berupa pantun, novel dan ada yang berupa cerpen, nah cerpen itu yang kemaren kita lombakan,”ungkap Syaropi sembari menegaskan “ Mereka didorong semangatnya dalam tulis menulis agar terbangkitkan semangat  budaya tulis-menulisnya. Karena didalam menulis itu ada logika-logika berfikir yang harus diasah. Pengasahan logika-logika ini membuat orang cerdas dan kecerdasan itu membawa orang pada kesejahteraan.

Syaropi berharap mereka yang mengikuti lomba cerpen agar tetap terus berkarya, baik dengan jalan mengirimkan naskah-naskahnya ke berbagai media baik media cetak maupun elektronik. Bisa juga dikirim lewat media internet, com, Face Book, “ Sehingga nanti akan lahir penulis-penulis dan pengarang-pengarang terkenal,” ucap Syaropi seraya menegaskan “ Tidak ada Indonesia kalau tidak ada betawi. Jadi bicara Indonesia juga bicara Betawi,” tandasnya.      

(Syukur/ /LKB)

    
NOMINATOR

No.
Judul Cerpen
Nama Penulis
1
Kecopetan
Nasir Mupid
2
Cucu Kong Jaing
Ade Ganiarti
3
Duda Depan Rumah
Euis Damarwati, SS
4
Dul Syukur Balada Wartawan Betawi
Adam Muslih
5
Monyet
Yamin Azhari
6
Engkong Nipan Lupa Baca Bismillah
Awalin Zulfah
7
Gara-Gara Rujak
I. Goees Magrib
8
Si Bangku Jadul
Wita Dwi Mharani
9
Hikayat Engkong Berhikayat
Wandi
10
Kena Batunye
Firmansyah, Spd
11
Cinte....!
Yamin Azhari
12
Pilihan Orangtua
Rahmatullah H.M.A.Rasyid
13
Kawin Urung
Gita Aryani Kartika
14
Sebuah Tanah di Negeriku
Nur Indah Yusari
15
Order Bobokan
I Goees Magrib









PEMENANG

No.
Judul Cerpen
Nama Penulis
Juara
1
Monyet
Yamin Azhari
I
2
Si Bangku Jadul
Wita Dwi Maharani Putri
II
3
Cinte…!
Yamin Azhari
III
4
Kawin Urung
Gita Aryani Kartika
Harapan I
5
Order Bobokan
I Goees Magrib
Harapan II

Hayono Isman, Ketua Umum KPS Nusantara 2010-2014

Saatnya Sistem Digitalisasi Penilaian Pencak Silat Diterapkan
Msyawarah Besar (Mubes)  IV Keluarga Pencak Silat (KPS) Nusantara tahun 2010 dibuka secara resmi oleh Menteri Pemuda Olahraga Andi Malarangeng (27/3) 2010. Acara yang digelar selama dua hari dari tanggal 27-28 Maret 2010, kembali berhasil  memilih H  Hayono Isman sebagai Ketua Umum KPS Nusantara, untuk priode 2010 – 2014.

Terpilihnya, anggota DPR  dari fraksi Partai Demokrat sebagai Ketua Umum KPS Nusantara untuk ke dua kalinya ini, tak lepas dari peran besar Hayono Isman dalam membesarkan  perguruan pencak silat  ini hingga eksis seperti sekarang. 

Mubes yang diselenggrakan  di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indah (TMII), dihadiri oleh para peserta dari berbagai daerah, di Tanah Air. Seperti  Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimatn Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Tenggara Barat, Batam, Palembang, Irian, serta utusan dari beberapa negara, seperti Thailand, Belanda dan  Jerman.
Ketua Panitia KPSN Awang Suwanda, mengatakan Mubes ke IV KPSN  kali ini akan memunculkan pembaharuan. Khususnya  dalam pembinaan atlet pencak silat yang lebih komprehensif, mengingat seni bela diri pencak silat adalah bersumber dari Tanah Air. Namun, beberapa tahun ini, diakui Awang pencak silat mengalami keterpurukan. "Kemarin di Laos kita hanya mampu meraih dua emas, dan juara keempat, vietnam yang pelatihnya dari Indonesia meraih juara umum. Untuk itu, selain Mubes kita akan mengadakan sarasehan yang temanya menuju  pertandingan pencak silat  profesional dengan sistem  digitalisasi penilaian. Dan ini penting agar negara-negara lain dapat mengakses kita juga," tutur Awang.

Sebagaimana di ketahui KPS Nusantara adalah salah satu perguruan pencak silat yang punya  historis panjang  yang ikut dalam mengembangkan dan mengharumkan oleh raga pencak silat bersama perguruan lain di tingkat dunia. Termsuk KPS juga  merupakan perintis pencak silat pertandingan dan  perumusan jurus tunggal dan regu yang kini menjadi nomor resmi pertandingan Pencak Silat baik di tingkat  nasional maupun Internasional. 

KPS Nusantara secara terprogram merintis melaksanakan dan mengembangkan Pencak Silat dari berbagai aspek, terutama  dalam melakukan kerja sama dengan berbagai pihak di nusantara termasuk dengan negara luar  untuk memberikan sumbangan kepada Pencak Silat Indonesia khususnya IPSI.

Ketua Umum  KPS Nusantara,  Hayono Isman mengatakan  prestasi Pencak Silat  kita secara umum memang mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari hasil Sea Games 2009, dimana Indonesia menempati perolehan medali yang jauh dari sebelumnya di Sea Games 2007 yang mampu menjadi juara umum . Inilah  inilah yang  menjadi fokus pemikiran dan tanggung jawab saya kedepan memimpin  KPS Nusantara. Termasuk kita juga akan melakukan Introspeksi demi mengembalikan kejayaan pencak silat sebagai warisan budaya yang selama ini punya peran besar mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional,” kata Hayono Isman.

Mubes KPS Nusantara IV Tahun 2010  ini, disamping memilih kembali Hayono Isman sebgaia Ketua Umum KPS Nusantara periode 2010 – 2014, juga dalam rangka menyempurnakan AD / ART yang disesuaikan dengan Undang-undang No.3 tahun 2005, Tentang Sistem Keolahragaan Nasional beserta PP. No. 16, 17 dan 18, serta menyusun Program untuk menjawab setiap permasalahan Pencak Silat.  Mubes kali ini juga mempunyai nilai strategis bagi Keluarga Pencak Silat Nusntara dan IPSI. Karena tahun 2011 nanti Indonesia menajdi tuan rumah Sea Games, oleh karena itu IPSI berusaha untuk mensukseskan penyelenggaraan sekaligus sukses prestasi. Dua hal yang menjadi barometer kesuksesan Sea Games 2011, yang harus menjadi Komitmen bersama dan oleh karena itu KPS Nusantara siap bekerja besama IPSI mensukseskannya.
Dalam kesempatan itu pula Hayono  berharap agar IPSI dapat terus melakukan pembinan terhadap anggotanya termsuk KPS Nusantara dengan berpartisipasi dalam setiap kegiatan.

Bersamaan dengan Mubes ini juga dilaksanakan Sarasehan Nasional pada tanggal 28 Maret 2010. Dengan Thema “Merintis diwujudkannnya Pertandingan Pencak Silat Profesional dan System digitalisasi penilaian Pertandingan Pencak, dengan menghadirkan tiga orang nara sumber, Haryo Yuniarto, SH, Fritz. E. Simanjuntak dan Dewan Guru KPS Nusantara O’ong Maryono serta Menpora Andi Malarangeng. 

Dikatakan Hayono, pertandingan Profesional Pencak Silat,masih butuh waktu yang lama untuk mewujudkannya,seperti halnya Perandingan Tinju ataupun Sumo di Jepang. “ Pertandingan Profesional Pencak Silat masih perlu di kaji bersama-sama dengan perguruan lain, apalagi kalau melihat gedung Padepokan Pencak Silat yang besar di Taman Mini Ini belum tampak rohnya”tegasnya.

Sementara Itu Ketua Umum Persekutuan Pencak Silat Dunia (PERSILAT), yang juga pembina KPS Nusantara H. Edi M. Nalapraya yang ditemui POTRET INDONESIA, mengatakan digitalisasi dalam penilaian pertandingan Pencak Silat sudah saatnya dilaksanakan” Memang harus melakukan ide-ide baru dari perguruan , kenapa ? karena perguruan itu boleh dibilang roh-nya Pencak Silat. Nah usul itu dibahas besama dan diusulkan ke PB IPSI sebagai masukan untuk menjadi kebutuhan Nasional  Sudah saatnya kita beranjak menggunakan tehnologi dan menyesuaikan kemajuan jaman jangan tradisional lagi,"ungkapnya.

Sementara, Menpora berharap, Pencak Silat mampu mengembalikan kejayaannya kembali, mengingat pencak silat berasal dari Indonesia. "Menyedihkan, kalau pencak silat kita malah kalah dari negara-negara tetangga.Kalau olahraga lain mungkin kita masih memaklumi,  ujarnya. Menpora juga menyampaikan dukungannya kegiatan digitalisasi yang dilakukan Pencak Silat Nusantara, dan mengharapkan kedepan  pencak silat bukan hanya sebagai profesi tetapi juga bisa menjadi sumber mata pencaharian.

Mengenai KPS Nusntara,  edi nalapraya mengatakan saat ini KPS Nusantara memang merupakan perguruan yang didalamnya di isi oleh para Intelektual muda dan kini terus meningkatkan dan mengembangkan perguruan baik didalam maupun di luar negeri. “ Saya pikir KPS Nusantara harus menjadi penyuluh , perbanyak cabang-cabangnya di daerah  seluruh nusantara apalagi namanya KPS Nusantara. Persiapkan wasit dan juri dalam satu latihan, digodok, diberi ilmu pada tahap awal sehingga  pelatih dapat menurunkan ilmu kepada muridnya dan  sang murid mengerti mengenai peratuan pertandingan,”Pesannya.
Hal senada juga dikatakan O’ong Maryono, salah seorang dewan guru KPSN yang kini melanglang buana ke berbagai negara menyebarkan pencak silat seni bela dri asli Indonesia.  Menurutnya,  masalah digitalisasi sistem penilaian terkendala masalah sumber daya manusia (SDM).  Karenanya menjelang Sea Games 2011 kita sedang melakukan kegiatan penataran para wasit dan juri yang memang saat ini jumlahnya terbatas.
(a.syukur)

Kamis, 09 Desember 2010

Suku Betawi

Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa.

Istilah Betawi
Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa Melayu Kreol yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Kata Betawi sebenarnya berasal dari kata "Batavia," yaitu nama kuno Jakarta yang diberikan oleh Belanda.


Diawali oleh orang Sunda (mayoritas), sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian Pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.

Antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA memperkirakan, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.

Rumah Bugis di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Jawa dan Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu.

Suku Betawi
Pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.

Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.

Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.

Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Sunda) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong.

Setelah kemerdekaan
Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi — dalam arti apapun juga — tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, 'suku' Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, ’suku’ Betawi tidaklah pernah tergusur atau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.

Seni dan kebudayaan
Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo, atau sebuah campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Belanda, Jakarta merupakan ibu kota Indonesia yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Jakarta juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.

Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.

Bahasa
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.

Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.

Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari Batavia). Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik  yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.

Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi.

Musik
Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong.

Tari
Seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya masyarakat yang ada di dalamnya. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan Tiongkok, seperti tari Jaipong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama juga muncul seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamis.

Cerita rakyat
Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau si jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal "keras". Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman kolonial.

Senjata tradisional
Senjata khas Jakarta adalah bendo atau golok yang bersarungkan terbuat dari kayu.

Kepercayaan
Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.

Profesi
Di Jakarta, orang Betawi sebelum era pembangunan orde baru, terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Semisal di kampung Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kemboja jepang, dan lain-lain). Dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan pendidik semisal K.H. Djunaedi, K.H. Suit, dll. Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga Kemanggisan.

Kampung yang sekarang lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para peternak sapi perah. Kampung Kemandoran di mana tanah tidak sesubur Kemanggisan. Mandor, bek, jagoan silat banyak di jumpai disana semisal Ji'ih teman seperjuangan Pitung dari Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak zaman Belanda dulu, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan. Guru, pengajar, ustadz, dan profesi pedagang eceran juga kerap dilakoni.

Warga Tebet aslinya adalah orang-orang Betawi gusuran Senayan, karena saat itu Ganefonya Bung Karno menyebabkan warga Betawi eksodus ke Tebet dan sekitarnya untuk "terpaksa" memuluskan pembuatan kompleks olahraga Gelora Bung Karno yang kita kenal sekarang ini. Karena asal-muasal bentukan etnis mereka adalah multikultur (orang Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi masing-masing kaum disesuaikan pada cara pandang bentukan etnis dan bauran etnis dasar masing-masing.
 
Perilaku dan sifat
Asumsi kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang berhasil. Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb, dan Fauzi Bowo yang menjadi Gubernur Jakarta saat ini .

Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.

Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi masa kini agak terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri (baca : Jakarta). Namun tetap ada optimisme dari masyarakat Betawi generasi mendatang yang justru akan menopang modernisasi tersebut.

Tokoh Betawi
  • Muhammad Husni Thamrin - pahlawan nasional
  • Ismail Marzuki - pahlawan nasional, seniman
  • Ridwan Saidi - budayawan, politisi
  • Bokir - seniman lenong
  • Nasir - seniman lenong
  • Benyamin Sueb - artis
  • Nazar Ali - artis
  • Mandra - artis
  • Omaswati - artis
  • Mastur - artis
  • Mat Solar - artis
  • Fauzi Bowo - pejabat pemerintahan
  • K.H. Noerali - pahlawan nasional, ulama
  • SM Ardan - sastrawan
  • Mahbub Djunaidi - sastrawan
  • Firman Muntaco - sastrawan
(sumber: wikipedia)

Sajian Makanan Betawi Pinggiran

Untunglah ada orang-orang seperti Robbi Darwis (32), anak Betawi asli yang masih mau memperlihatkan perhatian pada tanah kelahirannya. Untuk itu dia membuka Rumah Makan Betawi Ora yang ada di kawasan Ciledug. Menu yang ditampilkan sudah pasti makanan Betawi, terutama yang sudah hampir punah.
Menurut Robbi, menu yang ditampilkan mengkhususkan pada makanan orang Betawi pinggiran. Seperti diketahui Betawi itu terbagi atas Betawi tengah atau Betawi Kota dan Betawi pinggiran.
Yang termasuk Betawi tengah atau Betawi Kota dapatlah disebutkan kawasan yang pada zaman akhir pemerintahan penjajahan Belanda termasuk wilayah Gemeente Batavia, kecuali beberapa tempat seperti Tanjungpriok dan sekitarnya.
Sedangkan daerah-daerah di luar kawasan tersebut, baik yang termasuk wilayah DKI Jakarta, apalagi daerah-daerah di sekitarnya, merupakan wilayah Betawi pinggiran yang pada masa-masa yang lalu oleh orang Betawi tengah suka disebut Betawi Ora. Yang termasuk wilayah Betawi pinggiran antara lain Ciledug, Ciputat, Pamulang, Pondokaren, Jombang, Cengkareng.
Bagaimana makanannya? "Dari segi rasa cenderung lebih menyukai asin, asam dan gurih. Kalau bumbunya asal cemplung, diiris, dan hanya memakai feeling saja, asal tabrak. Jadi menghasilkan rasa yang unik," ujar Robbi.
Ada juga makanan yang dipengaruhi oleh budaya Cirebon. Seperti nasi ulam bumbu sawur yang terdiri dari nasi gurih yang terdiri dari nasi gurih yang sudah dibumbui jahe, sereh, dan daun salam. Lalu nasinya ditutupi dengan serundeng (bumbu sawur). Dimakan dengan teri kacang asin (khas pesisir), orek tempe, telur cladar serta ada tambahan pilihan lauk seperti ayam, empal, iso babat, ati ampela atau udang. Konon, makanan ini kesukaan Sultan Hasanuddin, anak dari Sunan Gunung Jati yang kemudian membawa resepnya ke Banten.
Tersedia pula gecok lele. Ikannya dibakar terlebih dahulu kemudian diberi bumbu gecok (tumbuk) berupa kencur, bawang, kemiri, cabai dan santan. Atau yang unik lagi, kepala kakap merah bumbu krecek. Meski tampilannya rada kental tapi dimasaknya tanpa menggunakan santan. Rasa asamnya lebih dominan karena menggunakan belimbing sayur dan sedikit rada pedas.
Salah satu yang paling populer dan rada sulit dicari adalah pucung gabus yang memakai kuah bumbu keluwek, biasa dipakai untuk rawon. Pasalnya, ikan gabus ini memang agak sulit ditemui. Tidak lupa juga disediakan pecak dan pindang bandeng.

Picung Gabus
"Kami juga menyediakan sayur besan. Jarang juga orang masak ini kecuali ada pesta atau selamatan. Tapi memang tidak selengkap dulu, hanya ada kentang, bunga kol, bihun, dan santan. Zaman nenek saya, ada tambahan telur tebu yang sekarang sudah sangat langka," papar pria yang bertugas di kepolisian itu.
Beberapa lauk pauk tersebut sudah tersedia dan disajikan di atas piring dari tanah liat yang dialasi daun pisang. Pengunjung tinggal membuka dan memilihnya. Tinggal nanti juru masak akan menghangatkannya lagi.
Kecuali untuk nasi ulam bumbu sawur dan sop betawi harus diracik dan digoreng lauknya. Berbagai jenis sambal yang dihidangkan di dalam wadah tanah liat siap menemani semua masakan tersebut. Ada sambal terasi, sambal bajak, sambal kemiri, sambal tomat, sambal pete.
Semua masakan tersebut, menurut Robbi, biasa dimasak oleh para nenek yang biasa memasak untuk acara hajatan. Dan kemudian mereka mengajarkan pada anak-anak Meski dirinya tidak bisa memasak, namun tetap ingin melestarikan makanan-makanan tersebut. "Sebagai generasi penerus kalau memang ingin mengembangkan budaya Betawi yah harus terus menonjolkan kesenian dan kulinernya sehingga bisa dikenal sampai seterusnya," ujar pria yang suka bernyanyi ini.

Kental Nuansa Betawi
Memasak dengan filosofi
Untuk minumannya, ada es selendang mayang. Terbuat dari tepung beras yang diberi warna merah, putih dan hijau. Lalu diberi kuah santan clan gula merah. Es ini juga sudah cukup langka, hanya di daerah pinggiran Jakarta yang masih menjualnya dan kebanyakan penjualnya orang-orang tua.
Biasanya es selendang mayang ini biasa muncul pada acara sedekah cendol. Dibagibagikan ke masyarakat. Robbi menuturkan, misalkan dalam satu keluarga ada yang sedang hamil bersamaan maka untuk keselamatan si jabang bayi dan ibunya dibuatlah selendang mayang tersebut.
Mayang itu melambangkan Dewi Sri yang berarti kemakmuran, maka ada tepung beras. Warna hijau yang terbuat dari daun sup yang berarti kembali ke alam, melambangkan gemah ripah. Warna merah melambangkan kejayaan dan berwibawa, serta putih berarti suci dan beriman.
Masyarakat Betawi Ora ini masih menganut adat-adat yang menyangkut filosofi, sehingga dalam membuat makanan harus ada hal yang dipahami, seperti saat membuatnya pada jam jam tertentu agar sesuai dengan filosofi yang dibawa Sunan Gunung Jati," jelas Robbi.
Juga ada teh betot, sekilas mirip dengan teh tarik tapi rasanya beda. Teh betot ini menggunakan campuran gula cair, daun jeruk dan susu kental manis. Menimbulkan aroma yang wangi. Tehnya pun terdiri dari beberapa racikan daun teh.
Satu lagi jenis kudapan yang sudah sangat langka, oblang duren. Daging duren matang dimasak dengan santan dan gula merah hingga mengental. Lalu dimakan dengan ketan kukus. Sungguh nikmat.
Makan di warung ini layaknya makan di warung biasa. Meja dan bangku panjang tanpa sandaran membuat suasana jadi lebih santai. Di setiap mejanya disediakan air kendi yang sangat segar. Air kendi ini juga pengaruh dari Cirebon.
Pelawak Petrix penggemar masakan Betawi Ora
Warna hijau mendominasi seluruh ruangan. Di dinding terpampang foto wajah dari Bang Pelor, ayahnya Robbi yang juga merupakan tokoh ternama di Tangerang. Serta beberapa foto kegiatan dan komunitas Betawi Ora.
Dari segi harga cukup terjangkau, sayur besar Rp 6.000 per porsi, nasi ulam bumbu sawur Rp 15.000, pecak lele Rp 12.000 per ekor, pucung gabus Rp 15.000 per ekor, kakap Rp 25.000 per kepala, pecak bandeng Rp 10.000, teh betot Rp 10.000 per gelas jumbo, es selendang mayang Rp 5.000, oblang duren Rp 10.000.
(DBS)

Menakar Potensi Seni Budaya Tradisional Betawi

Kebudayaan Betawi dapat tegak berdiri dan sejajar, bila semua pihak terutama  pemerintah daerah memberi dukungan serta perhatian serius terhadap seni dan budaya Betawi. Bila tidak, kesenian betawi perlahan-lahan akan meredup dan hilang dengan sendirinya.

Sejak zaman perjuangan Jakarta memang dikenal memiliki pelabuhan terbesar yang bernama Sunda Kelapa. Ditempat inilah awal terjadinya interaksi berbagai suku bangsa yang berbeda etnik, baik dari berbagai daerah di nusantara maupun dari manca negara. Sejak pelabuhan Sunda Kelapa dikuasai oleh Kerajaan Islam Demak yang dipimpin Fatahillah pada abad 16, Jakarta terus disingggahi oleh berbagai suku bangsa, seperti Portugis, Arab, Cina, dan Belanda. Benturan kepentingan yang dilatarbelakangi oleh berbagai budaya tidak bisa dihindari. Melting Pot (percampuran kelompok etnik) membuahkan dinamika kebudayaan baru. Budaya inilah yang merupakan cikal bakal dari kehidupan bermasyarakat masa kini di Jakarta atau yang lebih akrab dengan julukan Betawi.

Tak heran bila, Kebudayaan Betawi lebih didominasi oleh kebudayaan Melayu. Hal tersebut tampak dapat dilhat  dari kawasan tengah hingga pesisir Jakarta terasa kuat pengaruh melayu, semakin ke pinggir yang menonjol justru pengaruh Sunda. Ada terdapat perbedaan dialek antara Tengah dan pinggir. Lidah penuturan Melayu Tengah yang dipentaskan dalam sinetron Bajaj Bajuri merupakan perubahan yang terjadi setelah tahun 1940. Pada tahun-tahun sebelumnya lidah penuturan Melayu Tengah tidak berbeda dengan Melayu Riau dan Semenanjung seperti dapat disaksikan pada film-film yag diproduksi pada tahun 1925-1940. Sisa-sisa lidah penuturan asli masih dapat ditemukan di daerah Tanah Abang.

Tengok saja, pada dekade 1970 pemerintah kota Jakarta dalam acara-acara resminya hanya menampilkan kesenian Sunda. Kesian Melayu Betawi tidak mendapat tempat. Meski pun sejak tahun 1958 ada usaha membangkitkan pergerakan masyarakat Betawi, tetapi usaha ini tidak banyak membawa hasil.

Berdirinya Taman Ismail Marzuki di Jakarta sebagai arena pertunjukkan kesenian sejak tahun 1969 dimanfaatkan sastrawan S.M. Ardan untuk membangkitkan teater tradisional lenong. Usaha ini menampakkan hasil yang sangat di luar dugaan. Ribuan penonton memenuhi TIM menyaksikan pertunjukkan lenong. Sukses ini dilanjutkan seniman Benyamin S dengan menampilkan gaya Melayu Betawi dalam rekaman musik dan film. Masyarakat Indonesia mulai memperhitungkan eksistensi suku bangsa Melayu Betawi.

Betawi Kaya Budaya


Ada berbagai  jenis kesenian tradisional Betawi yang ada di masyarakat perlu dipertahankan untuk  dilestarikan, diantaranya, seni tradsional Cokek, Belenggo,   Zapin, Wayang Betawi, Samrah, Uncul dan Pencak Silat. Termasuk di dalanya seni teater/peran tradisonal Betawi, seperti Ondel-ondel, Gemblokan, Buleng, Sahibulhikayat, Rancaq, Topeng,  Jipeng, Lenong, Dermuluk, dan lain sebagainya.

Untuk seni musik tradisional, Betawi punya Gambang Kromong, Tanjidor, Orkes Gambus, Keroncong Tugu, Gemalan Topeng, Sampyong, Musik Marawis, Gamelan Ajeng, dan Rebana (ketimpring, ngarak, maukhid, hadroh, dor, qasidahburdah, biang).

Selain budaya asli Betawi, di daerah pimpinan Gubernur Fauzi Bowo ini juga tumbuh dan berkembang beragam jenis kesenian daerah dari penjuru tanah air,  seperti Tari Ronggeng blantek, Tari Lenggo Jingke, Tari Legong Kraton, Tari Panyembrame, Tari Tlenjeng, Tari Jaipong, Tari Rampak Gendang, Tari Rantak, Tari Bambangan Cakil, dan Tari Payung.

Tak hanya kesenian, ternyata batik menjadi bahan pakaian yang popular di kalangan penduduk Betawi laki-laki pada paruh akhir abad XIX, terutama di wilayah budaya Betawi Tengah. Mereka bercelana batik seperti halnya orang Belanda. Celana batik sebagai pakaian sehari-hari di rumah bersaing dengan sarung batik corak plekat. Motif plekat diilhami corak pakain Scot. Karena itu pada tahun 1931 terjadi seruan boykot terhadap plekat ketika terjadiu aksi anti Eropa di Hindia Belanda karena seorang pejuang Libya Sidi omar Muchtar digantung penjajah Italia di Tripoli.

Syekh Ahmad Syurkati kelahiran Dunggala, Sudan, menganjurkanagar kaum lelaki memakai kain corak hujan gerimis, yangkemudian hai corak ini dikenal sebagai Dunggala. Walhasil politisasi kain berujung pada makin popularnya penggunaan celana batik di kalngan laki-laki Betawi.

Demand terhadap batik makin meningkat yang mendorong tumbuhnya industri batik di Palmerah, kemudian hari berkembang hingga Karet Belakang, Setia Budi.

Batik Palmerah, atau disebut juga batik Tenabang, adalah batik pesisiran yang menggunakan warna-warna ceria. Batik Palmerah biasanya untuk pakaian sehari-hari. Untuk keperluan hajatan dan plesiran orang-orang Betawi Tengah memakai batik Jawa (Lasem).

Batik Jawa dikoleksi perempuan Betawi Tengah. Mereka yang “berada” juga mengoleksi batik Belanda. Batik koleksi tidak dikenakan, walau untuk hajatan.

Pada tahun 1920-an di kalangan perempuan Betawi terkenal keredong batik Lasem corakan lokcan/locan. Karedong ini disebut selendang lokcan/locan. Selendang lokcan/locan eks Lasem sebenarnya sudah diproduksi sejak akhir abad XIX, tetapi hanya kalangan terbatas saja yang memakainya.

Membatik disebut nembok yang berasal dari kata embok. Embok sebuah perkataan gender yang bermakna pekerjaan perempuan. Pekerja industri batik di Jakarta adalah perempuan.

Hancurnya industri batik Palmerah karena generasi penerus pemilik industri, yang lahir di awal tahun 1940-an, tidak ada yang berminat melanjutkan kegiatan industri lagi. Mereka tidak sanggup mengawasi industri yang sudah mulai bergiat sejak pukul 04.00.

Ada pun industri batik Setia Budi hancur karena modernisasi yang menuntut lahan. Dan lahan industri batik yang menjadi korban.

Inilah jenis kesenian kerajinan Betawi yang masih berpotensi untuk dilestarikan karena telah muncul generasi perupa seperti Daud (Yogya) dan Sarnadi (Betawi) yang berminat melestarikan batik Betawi.


Pemerintah Tak Tinggal Diam


Menurut Tatang, awalnya LKB ini didirikan oleh sekumpulan masyarakat betawi tahun 1975 silam lalu, melalui suatu forum lokakarya. Nah, dari situ kemudian oleh tim perumus dibentuklah  suatu wadah yang dianggap mampu membina dan melestarikan seni budaya tradisional betawi. Maka, pada tahun 1977 secara resmi LKB terbentuk melalui badan hukum yang kemudian diteruskan melalui Surat Keputusan ( SK) Gubernur DKI Jakarta kala itu (Alm) H. Ali Sadikin.

Jadi, saya kira peran yang dimainkan oleh pemerintah daerah Provinsi DKI Jakarta untuk memberi perhatian terhadap kesenian Betawi cukup besar. ”Salah satu wujud perhatian dan kepedulian dari Pemerintah DKI Jakarta adalah dengan dibentukanya LKB yang ditetapkan dengan Keputusan Gubernur KDKI Jakarta Nomor 197 Tahun 1977,” ungkap Tatang Hidayat yang belum lama ini dikukuhkan sebagai Ketua LKB periode 2009-2012 oleh Gubernur DKI Jakarta Dr.Ing. Fauzi Bowo.

Gubernur Fauzi Bowo, bahkan mendesak agar pengurus LKB baru bisa menuntaskan pembebasan lahan di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jagakarsa Jakarta Selatan. Termasuk dituntut dituntut untuk memperkenalkan budaya Betawi ke mancanegara.

Diakhir amanatnya, Gubernur Fauzi Bowo mengaku senang dengan adanya kepengurusan baru LKB di bawah ketua umum Tatang Hidayat yang bersifat defenitif. “Bekerja untuk organisasi ini, jangan setelah terbentuk kepengurusan malah cari urusan (ribut),” ujar Foke, belum lama ini. ”Ke depan ia berharap agar kepengurusan LKB baru ini mampu mengangkat dan mempertahankan kemajuan budaya Betawi hingga diperhitungkan baik di tingkat nasional maupun internasional,”pungkasnya. (Abdul Syukur)